Kamis, 22 April 2010

Peringatan Hari Bumi 22 April : Bumi Berubah Cepat, Nyamukpun Ber-evolusi(Universitas Surabaya Kampus Hijau)

Bumi Berubah

Bumi sekarang ini telah berubah dengan cepat. Manusialah yang memicu perubahan ini dengan terus memproduksi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam aktifitas kesehariannya seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluoro-karbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6).

GRK menyebabkan radiasi sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh bumi ke luar angkasa terhambat karena dipantulkan kembali oleh GRK, akibatnya terjadi akumulasi panas di atmosfer bumi, inilah yang di sebut dengan efek Rumah Kaca. Disebut demikian karena peristiwanya serupa dengan yang terjadi dalam sebuah rumah kaca (green house) yang biasa digunakan pada kegiatan pertanian untuk menjaga suhu agar tanaman di dalamnya tetap hangat.

Meningkatnya konsentrasi GRK menyebabkan peningkatan pada radiasi matahari yang terperangkap dalam atmosfer bumi, akibatnya suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi akan meningkat. Fenomena peningkatan suhu permukaan bumi ini disebut Pemanasan Global (Global Warming).

Meningkatnya suhu permukaan bumi akibat pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan unsur-unsur iklim, seperti :
Naiknya suhu air laut
Naiknya penguapan di udara
Perubahan pada pola hujan dan tekanan udara
Sehingga pada akhirnya merubah pola iklim dunia, fenomena ini dikenal sebagai perubahan iklim

Perilaku Nyamuk


Perubahan iklim menyebabkan berbagai dampak serius yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Salah satunya adalah ancaman kesehatan. Curah hujan lebat apalagi diikuti banjir, dapat memperburuk sistem sanitasi yang belum memadai di banyak wilayah kumuh di berbagai daerah dan kota, sehingga dapat membuat masyarakat rawan terkena penyakit-penyakit yang menular lewat air seperti diare dan kolera.

Suhu tinggi dan kelembapan tinggi yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan kelelahan akibat kepanasan terutama di kalangan masyarakat miskin kota dan para lansia. Suhu yang lebih tinggi juga membuat masa inkubasi nyamuk semakin pendek, nyamuk berkembang biak lebih cepat. Akibatnya penyakit yang dibawa oleh nyamuk semakin cepat menyebar. Kenaikan temperatur Bumi itu telah mengakibatkan ukuran larva dan nyamuk dewasa menjadi lebih kecil, yang berujung dengan pelipatgandaan frekuensi makan setiap nyamuk dan resiko penularan penyakit.

Bahkan menurut tim peneliti dari Johns Hopkins School of Public Health pada 1998 dikatakan bahwa peningkatan suhu global akan menjadikan Demam Berdarah Dengue (DBD)oleh nyamuk Aedes Aegepti dan Aedes Albopictus sebagai penyaki infeksi yang disebarkan serangga yang paling serius dan fatal di muka Bumi.

Menurut Centers For Disease Control and Prevention (CDC) yang berlokasi di Atlanta, Georgia, AS, demam dengue dan DBD disebabkan oleh virus serotype DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 dimana satu type virus tidak menyebabkan imunitas terhadap type lainnya. Otomatis, manusia memiliki kemungkinan terkena demam dengue 4 kali sepanjang hidupnya. Berita buruknya, akan selalu muncul strain dan type baru dari virus tersebut sehingga kemungkinan menekan kecenderungan peningkatan aktivitas epidemi penyakit tersebut nyaris mustahil.

Faktor – Faktor Evolusi

Menurut pakar paleontologi dari Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Prof. Dr. H. Fachroel Aziz dalam disertasinya berjudul “Evolusi dan Paleontologi Vertebrata Indonesia: Perspektif Perubahan Iklim”, dikemukakan faktor-faktor yang memengaruhi mekanisme evolusi.

Pertama ialah mutasi. Dapat dilihat dalam bidang mikrobiologi modern yang ditunjukkan dengan kebalnya parasit malaria terhadap berbagai jenis obat-obatan, atau berbagai penyakit mikroorganisme yang menjadi kebal terhadap berbagai obat antibiotik.

Kedua adalah adaptasi. Mekanisme proses evolusi juga dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi organisme itu sendiri. Sebenarnya, untuk dapat melihat perubahan evolusi diperlukan ratusan generasi dalam populasi yang berkesinambungan. Untuk mikroorganisme, dalam waktu satu atau beberapa tahun saja, kita telah dapat melihat berbagai perubahan genetis secara nyata.

Ketiga adalah isolasi. Isolasi berperan dalam perubahan genetis dan dapat pula melahirkan spesies yang berbeda. Secara singkat, dalam satu populasi spesies fauna yang sama dapat dibagi dalam dua atau lebih populasi. Selanjutnya populasi tersebut akan mudah berkembang menjadi dua atau lebih spesies yang berbeda secara nyata, ketika populasi itu terpisah dalam isolasi genetis untuk jangka waktu yang lama.

Keempat adalah iklim. Hal ini tercermin saat Bumi berada pada zaman es, ketika air laut dalam jumlah besar membeku di sekitar kutub bumi. Zaman Es ini berdampak drastis sekali terhadap iklim lokal, yang secara umum menyebabkan iklim menjadi lebih kering dan lebih dingin. Hal ini tercermin pada himpunan fosil fauna yang ditemukan di Jawa. Sekarang iklim berubah, ketika es yang membeku di kutub tersebut mulai mencair.

1 komentar:

Universitas Surabaya Kampus Hijau

 
Increase Page Rank


Pasang Iklan Gratis